Dalam kehidupan sehari-hari kita terkadang merasa bahwa waktu berjalan begitu cepat terutama ketika dalam keadaan terburu-buru. Di situasi yang lain ketika kita sedang menunggu sesuatu (mungkin waktu berbuka puasa ^^) waktu terasa begitu lama bahkan mungkin kita merasa bosan atau menjadi tidak sabaran. Sebenarnya dalam dua situasi tersebut, apakah waktu memang sebenarnya berbeda atau hanya persepsi orang-orang yang membuat waktu begitu relatif bagi semua orang??

 

Pada contoh yang lain, pernahkah suatu ketika anda merasa ingin buang air besar dan tiba-tiba seluruh toilet terdekat anda sudah berpenghuni semua? Apa yang anda lakukan? Mungkin anda akan menggedor-gedor pintu toilet agar penghuni di dalamnya cepat keluar. Apa yang anda rasakan? Mungkin anda merasa bahwa waktu sangat lama sekali menunggu orang di dalam toilet tersebut keluar. Namun, ketahuilah bahwa orang yang di dalam toilet tersebut pasti merasa bahwa waktu yang dia perlukan untuk mengeluarkan segala macam isi diperutnya menjadi sebentar karena diburu-buru oleh suara anda. Ternyata hal sederhana tersebut bisa menggambarkan bahwa persepsi waktu setiap orang berbeda tergantung dari apa yang sedang dia kerjakan dan rasakan.

 

Menurut Albert Einstein, selang waktu yang diukur pengamat diam tidak
sama dengan selang waktu yang diukur oleh pengamat bergerak terhadap suatu
kejadian. Ternyata kecepatan perubahan waktu tergantung pada kecepatan benda tersebut dan jaraknya dari pusat gravitasi (massa). Begitu kecepatan meningkat, waktu menjadi lebih singkat dan termampatkan, sehingga bisa dikatakan berhenti. Sederhananya, selang waktu yang diamati pengamat bergerak lebih lama jika dibandingkan oleh pengamat yang diam (Δt’>Δt). Peristiwa ini biasa disebut dilatasi waktu yang berarti waktu bersifat nisbi Δt’ = Δt/(1-v2/c2)1/2. Einstein mencontohkan dua saudara kembar yang satu tinggal dibumi dan yang satu lagi melakukan perjalanan keluar angkasa dengan kecepatan mendekati kecepatan cahaya. Ketika saudara kembar yang menjelajah angkasa pulang ke bumi dia akan mendapatkan saudara kembarnya menjadi lebih tua dari dirinya. Artinya sang penjelajah angkasa tersebut merasa bahwa perjalanan dia sebentar, tetapi kenyataan waktu bumi memperlihatkan bahwa dia sudah pergi cukup lama. Nah loh!! Bener bisa gitu yaaa?? (semoga ada kesempatan ke luar angkasa..amien! ^^).

 

Di dalam Al-qur’an juga terdapat beberapa ayat yang membahas tentang waktu, diantaranya QS. Al-Hajj ayat 47 yang artinya “Dan mereka meminta kepadamu (Muhammad) agar azab itu disegerakan. Padahal, Allah sekali-kali tidak akan menyalahi janji-Nya. Sesungguhnya, sehari di sisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu. Selain itu, ada juga sebuah cerita tentang Ashabul Kahfi pada QS. Al-Kahfi ayat 18-19 yang artinya: “Dan kamu mengira mereka itu bangun, padahal mereka tidur; dan Kami balik-balikan mereka ke kanan dan ke kiri, sedang anjing mereka mengunjurkan kedua lengannya di muka pintu gua. Dan jika kamu menyaksikan mereka, tentulah kamu akan berpaling dari mereka dengan melarikan diri dan tentulah (hati) kamu akan dipenuhi oleh ketakutan terhadap mereka. Dan demikianlah Kami, bangunkan mereka agar mereka saling bertanya diantara mereka sendiri. Berkatalah salah seorang diantara mereka, “sudah berapa lama kamu berada (di sini?)” Mereka menjawab, “kita berada disini seharri atau setengah.” Berkata (yang lain lagi), “Tuhan kamu lebih mengetahui berapa lamanya kamu berada (di sini). Maka suruhlah salah seorang diantara kamu untuk pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini, dan hendaklah dia lihat manakah makanan yang lebih baik, maka hendaklah ia membawa makanan itu untukmu, dan hendaklah ia berlaku lembut dan janganlah sekali-kali menceritakan halmu kepada seorang pun.” Pada ayat yang lain menjawab “Dan mereka tinggal di dalam gua mereka tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun.( QS. Al-Kahfi ayat 25). Ayat tersebut menjelaskan bahwa pemuda Ashabul kahfi merasa bahwa waktu yang singkat di gua karena ditidurkan oleh Allah SWT. Waktu singkat yang mereka rasakan karena mereka membandingkan saat mereka masuk ke gua (saat masih sadar) dengan ketika mereka terbangun. Hal tersebut bisa diartikan bahwa waktu memang terdiri dari persepsi orang. Menurut Lincoln Barnett penulis buku The Universe and Doctor Einstein, “sebagaimana tidak ada warna bila tidak ada mata yang melihatnya, maka tidak ada pula ukuran sesaat, sejam, atau sehari bila tidak ada kejadian yang menandainya.”

 

Sehingga yang dapat disimpulkan mengenai relativitas waktu adalah ketika terdapat perbedaan persepsi rentang waktu, bukan disebabkan percepatan atau perlambatan dari jarum jam. Menurut Agus Susanto, relativitas itu merupakan hasil perbedaan waktu operasi sistem materi secara keseluruhan, termasuk di dalamnya partikel-partikel sub atom. Sehingga bagi yang merasakan waktu itu sangat lama, bukan berarti menjalani kehidupan seperti dalam film gerak lambat tetapi relatif tergantung dari sudut pandang mana kita akan coba cermati. Pemendekan waktu tersebut tidak akan terlihat jelas sampai dilakukan perbandingan.

 

Lantas, apakah kita masih menyia-nyiakan waktu yang ada apabila kita memang tidak bisa mengendalikan waktu yang ada? Ataukah kita sedang menunggu penyesalan yang tidak akan mungkin membawa kita ke masa lampau untuk kita perbaiki? Waktu adalah ukuran batasan yang dapat membuat keteraturan dalam berkarya atau bahkan menjadi bom waktu untuk diri yang merugi.

Sumber:

Al-qur’an

Islam Itu Sangat Ilmiah

Buku Fisika SMA

 

 

Konsep ketahanan pangan menurut FAO 1996 adalah kecukupan di tingkat individu pada setiap keluarga dengan menekankan tingkat kualitas kehidupan yang sehat dan produktivitas individu yang baik. Apabila dibandingkan dengan konsep ketahanan pangan menurut Undang-undang Pangan No 7 Tahun 1996 maka tidak ada perbedaan dalam hal pengertiannya, hanya objeknya yang menekankan kecukupan pangan pada tingkat rumah tangga dengan sasaran setiap individunya. Artinya, UU Pangan No. 7 Tahun 1996 melihat ketahanan pangan pada kecukupan tingkat rumah tangga sedangkan FAO 1996 melihat kecukupan panggan dari tingkat individu rumah tangga. Makna ketahanan pangan ini, tidak hanya dari kebutuhan karbohidrat saja tetapi kebutuhan vitamin, protein, dan lemak juga. Syarat dari konsep ketahanan pangan sendiri adalah cukup, aman, bermutu, bergizi, dan sesuai dengan preferensi konsumen. Sehingga aspek-aspek dari ketahanan pangan itu harus segera terpenuhi, yang diantara:
Ketersediaan Pangan, artinya tercukupinya kebutuhan karbohidrat, vitamin, mineral, protein, dan lemak dari produk pertanian baik dengan mutu yang baik dan standar jaminan keamanan pangan yang terjamin. Keadaan tersebut juga sudah didukung oleh stabilitas pasokan pangan setiap waktu di seluruh pelosok Indonesia.
Keterjangkauan Pangan, artinya tidak ada kesulitan (baik secara fisik, ekonomi, dan sosial) bagi setiap individu untuk mendapatkan produk pertanian yang berkualitas. Hal tersebut juga harus didukung dengan kesesuaian berdasarkan kebiasaan, budaya dan kepercayaan. Misalnya, masyarakat yang sudah terbiasa memenuhi sumber karbohidratnya dari sagu tidak boleh digantikan dengan beras.
Kecukupan Konsumsi, artinya tidak kurang dan tidak berlebihan dalam memenuhi asupan dengan didukung pengolahan pangan dan sanitasi yang berkualitas.
Dalam merealisasikan ketahanan pangan ini ternyata bukanlah hal yang mudah karena masih terdapat beberapa hambatan yang harus dihadapi, diantaranya:
• Keterbatasan modal dari pelaku pertanian.
• Infrastruktur pendukung produksi dan distribusi yang belum maksimal.
• Kebijakan masih bersifat sektoral, jangka pendek, dan tidak fokus.
• Teknik budidaya yang cenderung masih tradisional.
• Lahan pertanian yang terus dikonversi.
• Pertumbuhan penduduk yang semakin meningkat.
Road map dalam mencapai ketahanan pangan nasional perlu terintegrasi dari hulu hingga hilir dengan fokus pada produk unggulan yang bernilai tambah tinggi. Perbaikan dalam bidang sarana dan prasarana pertanian, pembiayaan pertanian, peningkatan produktivitas, dan peningkatan pasar perlu segera dilakukan. Dukung berbagai kalangan baik pemerintah, masyarakat, dan swasta dapat menjadi kekuatan bersama dalam menciptakan ketahanan pangan untuk mencapai Indonesia yang sejahtera. Seperti yang sejarah ajarkan kepada kita bahwa “hidup dan matinya suatu bangsa terletak pada pertaniannya”(Bung Karno).

 

 

Cuplikan film “Wrath Of The Titans” yang bergenre peperangan menggelitik saya untuk mengetahui silsilah dari keluarga para dewa-dewa dari Yunani. Siapa tau aja ada yang keturunan darah biru..atau masih ada kekerabatan dengan dukun2 artis di Indonesia..#lhoo!

Okelah, enaknya kita mulai dari dewanya dewa alias dewa Zeus..Dewa Zeus merupakan pemimpin para dewa olympus setelah kekuasaan Kronos (orang tuanya sendiri) dikudeta oleh Zeus. Orang tua Zeus bernama Kronos dan Rea yang berasal dari kaum titan yaitu dewa-dewa yang berkuasa sebelum digantikan oleh dewa-dewa olympus. Kaum Titan generasi pertama terdiri dari enam pria (OkeanosHiperionKoiosKronosKrios dan Iapetos) dan enam wanita (Mnemosine, Tethis, Rea, Theia, Foibe, dan Themis). Zeus merupakan anak bungsu dari 7 bersaudara. Saudara kandung Zeus terdiri dari Hera (Ratu), Poseidon (Dewa Laut), Hades (Dewa Dunia Bawah), Hestia (Dewi Api),Demeter (Dewi Kesuburan). Setelah menakhlukan ayahnya sendiri dan mengurungkan di Tartaros, dewa-dewa olympus mengambil kekuasaan dari kaum Titan.

 

Zeus akhirnya menikah dengan Hera, saudara kandungnya sendiri dan menghasilkan 14 orang anak, yaitu Ares (Dewa Perang), Athena (Dewi Perlindungan), Apollo (Dewa Musik), Artemis (Dewi Perburuan) Afrodit (Dewi Cinta), Dionisos (Dewa Arak),Hebe, Hermes (Dewa Pembawa Pesan), Hercules (manusia setengah dewa), Helene (manusia setengah dewa), Hefaistos (Dewa teknologi), Perseus (manusia setengah dewa), Minos, Mousai. Pasti sudah familiar didengar adalah Hercules.

 

 

 

#Sekedar share dari keingintahuan 😀

 

Alkisah, di sebuah danau hiduplah seekor kodok dan dua itik. Mereka berteman baik. Pada suatu saat, setelah kekeringan panjang, ketika air di danau mengering, kedua itik berbincang dan memutuskan untuk pindah ke tempat lain. Si kodok terkesiap mendengar ini dan memohon kepada mereka, “teman-temanku tersayang kumohon kasihanilah aku. Bawa aku ke tempat air berada” Kedua itik berbincang dan kemudian menanyai si kodok, “beri tahu kami caranya memindahkanmu.” Si kodok menemukan sebatang tongkat kecil dan menjelaskan, “akan kugigit bagian tengah tongkat ini keras-keras dan masing-masing dari kalian akan menggigit ujungnya lalu terbang ke angkasa.” Kedua itik menjepit ujung tongkat dengan mulut mereka, sebagaimana yang diterangkan oleh si kodok, kemudian terbang tinggi ke angkasa. Mereka melintasi gunung dan padang. Ketika mereka telah melewati bukit tinggi, tampaklah sebuah perkampungan kecil. Ketika para penduduk kampung melihat mereka berseru kagum menyaksikan pemandangan tersebut.”Lihat itu!alangkah luar biasanya pemandangan itu!dua itik membawa seekor kodok dengan sebatang tongkat. Alangkah cerdik dan pandainya itik-itik itu. Mendengar ini, si kodok jadi kesal dan sangat tidak senang. Ia berteriak dengan suara nyaring kepada orang-orang itu, “ini gagasanku!dua itik ini cuma menjalankan gagasanku!” pada saat itu, ketika ia membuka mulut, si kodok kehilangan pegangan di tongkat. Ia pun jatuh dan mati.

hikmahnya…..

-meskipun kita punya gagasan hebat,mustahil mencoba gagasan itu tanpa bantuan orang lain. Dan yang lebih penting, meskipun sudah melakukan pekerjaan yang hebat, sekuat mungkin hindarilah untuk bersikap menyombongkan atau membanggakan diri. Mari budayakan melatih diri untuk mengendalikan keangkuhan yang tidak perlu-

^^

Tak pelak lagi perkebunan dengan seluruh dimensinya komunitas, industri, perdagangan dan areal industri itu sendiri telah menorehkan sejarah bagi negara Indonesia. rempah-rempah yang bernilai tinggi pada saat itu, telah mengundang bangsa-bangsa eropa untuk singgah di negeri tercinta ini. salah satu bangsa eropa yang berhasil menapakkan kaki di Indonesia adalah Belanda dengan labelnya yang bernama VOC. Monopoli perdagangannya pada saat itu membuat Belanda Cukup disegani di dunia perdagangan. Pada akhir abad ke 18 Be¬landa mengalihkan fokus perdagangan kepada tanaman pertanian lain yang bukan tergolong barang mewah, seperti kopi, tembakau, tebu, diikuti seabad kemudian kina, teh, karet, kelapa sawit. Tanaman-tanaman perkebunan pada saat itu sangat menguntungkan bagi negara Belanda karena dikerjakan oleh buruh berupah rendah bah­kan tak berupah dan lahan berharga murah.  Hal tersebut menjadi alasan utama yang membuat Belanda mengubah strategi pengelolaan dan penguasaan tanaman komersial menjadi pengelolaan yang ber­basis korporasi dari yang semula hanya melakukan perdagangan dengan rakyat yang bertindak se­bagai produsen. Namun, kekuasaan Belanda terhadap komoditas perkebunan Indonesia tidak berlangsung lama. Proklamasi kemerdekaan Indonesia menjadi langkah perubahan un­tuk meniup awan hitam penjajahan, yang secara ekonomis lebih berupa penguasaan perkebunan. nasionalisasi atau pengambilalihan kepemilikan perkebunan besar langsung dilakukan oleh pemerintah Indonesia dengan beberapa tahapan. Terlihat nyata jiwa patriorisme dan nasionalisme yang kuat ketika merebut kembali aset-aset negara yang menginginkan kedaulatan ekonomi harus berada di tangan bangsa sendiri.

Lahirnya pemerintahan orde baru diser­tai dengan program pembangunan Repelita (Rencana Pemban­gunan Lima Tahun), membuat perkebunan menjadi salah satu sumber favorit untuk menghasilkan devisa negara. Langkah pertama dimulai dengan peningkatan kemampuan Perkebunan Besar Negara (PN). Setelah itu, menggabungkan kekuatan Perkebunan Be­sar Negara dengan Perkebunan Rakyat sebagai pengelolaan manajemen perkebunan yang baru.  Penerapan pola pikir baru ini dilakukan pada pola Perkebunan Inti Rakyat (PIR) sejak awal 1980-an. Sejak saat itu pola PIR sangat mewarnai pembangunan perkebunan di Indonesia. Di akhir dekade 1980-an dibuat kebijakan mendirikan Perkebunan Besar Swasta (PBS) baik dengan pembangunan yang memanfaatkan Hak Guna Usaha (HGU) maupun melalui pola yang ber­dampingan dengan rakyat di wilayah-wilayah transmigrasi yang terpencil dan di pesisir.

Salah satu komoditas perkebunan terfavorit hingga saat ini adalah kelapa sawit. Tanaman ini di bawa oleh pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1848 dan di tanam di Kebun Raya Bogor. Saat ini, komoditas tersebut semakin berkembang pesat dengan berbagai perusahaan swasta yang menginvestasikan modalnya di perkebunan kelapa sawit. investasi besar-besaran dari perkebunan swasta di tahun 1990 semakin mendominasi pihak swasta di perkebunan kelapa sawit. Mulai tahun 1997 dan terutama setelah krisis moneter terjadi lagi perubahan dalam kepemilikan kebun kelapa sawit dengan masuknya investor Malaysia baik dengan membuka kebun baru maupun dengan mengakuisisi perkebunan yang ada. Berdasarkan data kementrian pertanian tahun 2007, beberapa perusahaan besar kelapa sawit yang bertengger di Indonesia diantaranya Sinarmas Group yang mendominasi produksi CPO sebanyak 15.000 ton per hari dengan total luas lahan kebun sawit di Indonesia mencapai 320 ribu hektare. Lalu Wilmar International Group yang memproduksi 7.500 ton per hari dengan luas lahan 210 ribu hektare. Salim Group yang merupakan induk usaha dari PT Salim Plantations, Indofood Group, dan IndoAgri menguasai lahan sawit terbesar di Indonesia sebesar 1.155.745 hektare. Namun, lahan yang dimiliki Salim Group belum ditanami seluruhnya, hanya 95.310 hektare. Selain itu, terdapat beberapa perusahaan lain seperti PT Astra Agro Lestari, PT Asian Agri (PT. AA) sebagai holding company dari divisi agribisnis Raja Garuda Mas Group, PT. Scofindo, Minamas Platation, dan sebagainya. Ke depan, berbagai tantangan yang muncul seperti infrastruktur, produktivitas, peningkatan nilai tambah, dan yang terpenting adalah isu lingkungan perlu adanya perhatian khusus yang berkeadilan.

Semoga sejarah tidak terulang kembali!

 

Sumber:

INDONESIAN COMMERCIAL NEWSLETTER

DUNIA INDUSTRI

DITJENBUN

 

minyak nabati menjadi salah satu komoditas pertanian yang semakin meningkat permintaannya dari tahun ke tahun. komoditas ini juga yang memberikan keuntungan ketika krisis moneter melanda Indonesia tahun 1998 silam. selama dunia masih membutuhkan minyak untuk menggoreng dan selama manusia masih memperhatikan penampilannya dari mulai kosmetik higga sabun, selama itu pula minyak CPO masih dibutuhkan. Persaingan produksi CPO terjadi pada negara Indonesia dan Malaysia yang hingga saat ini Indonesia masih menduduki peringkat pertama dalam memproduksi minyak sawit sebesar 22,3 juta ton/tahun (47,8%) dari produksi minyak sawit dunia. bila dibandingkan dengan penghasil minyak nabati lainnya seperti kedelai yang hanya memiliki produktivitas 0,50 ton/ha/tahun,  kelapa sawit memiliki produktivitas terbesar sekitar 3,82 ton/ha/tahun. biaya produksinya yang rendah di Indonesia membuat bisnis kelapa sawit mudah berkembang disini. per ton CPO yang dihasilkan di Indonesia hanya membutuhkan biaya sebesar 165.2 US$ bila dibandingkan dengan biaya produksi di Malaysia yang bisa mencapai 239.4 US$. Sebagai gambaran, Indonesia menguasai sekitar 12 persen permintaan oleochemical dunia yang mencapai enam juta metrik ton per tahun, sementara Malaysia mencapai 18,6 persen. Industri oleokimia adalah industri antara yang berbasis minyak kelapa sawit (CPO) dan minyak inti sawit (PKO). Dari kedua jenis produk ini dapat dihasilkan berbagai jenis produk antara sawit yang digunakan sebagai bahan baku bagi industri hilirnya baik untuk kategori pangan ataupun non pangan. Diantara kelompok industri antara sawit tersebut salah satunya adalah oleokimia dasar (fatty acid, fatty alcohol, fatty amines, methyl esther, glycerol). Produk-produk tersebut menjadi bahan baku bagi beberapa industri seperti farmasi, toiletries, dan kosmetik.

 



Categories
October 2017
S M T W T F S
« Jul    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  
free counters